26 Februari 2010

Tempat Kuliah Orang Berdasi

“Mas, Sampeyan kuliah dimana ?”

“Saya kuliah di Amikom Mbak”

“Oh… yang di Janti itu ya ….!!”

“Bukan, di Amikom yang di Cemorojajar Mbak”. (Sekarang kampus ini berada di Ringroad Utara Jogja, red)

“Oh, di AMIKOM tempat kuliah orang berdasi itu ya !”

“Tempat Kuliah Orang Berdasi” adalah jargon yang menjadi strategi unik. Unik karena jargon itu di luar dari kebiasaan, unik karena jargon itu menjadi penanda/ciri kampus, dan menjadi sangat unik karena orang lebih mengenal “Tempat Kuliah Orang Berdasi” dibandingkan dengan Amikom sendiri.

Jargon itu memang memiliki daya pikat yang ruarrrrrrr biasa. Nyatanya, AMIKOM adalah salah satu perguruan tinggi yang mahasiswa barunya selalu membludak setiap tahun, ketika pada saat yang sama banyak kampus yang mulai kurang mahasiswa. Memang, membludaknya mahasiswa itu bukan karena faktor jargon semata, tapi tentu juga karena “barang yang dijual” cukup menjanjikan. Tapi yang pasti, jargon itu memberi kontribusi, entah banyak atau sedikit.

Maka, pelajaran yang kita dapat dari cerita ini adalah … berilah penanda unik untuk produk yang dibuat. Hehe.. kalau begini jadi ingat dengan Pak Dosen Pemasaran, aduh.. lupa namanya, yang saya ingat adalah Pak Dosen itu punya mobil mirip mobil Mr. Bean. Maafkan saya dosenku, serius saya lupa, siapa ya nama beliau ? Maklumlah yang saya ingat cuma penanda uniknya saja … hehehe

Bontang, 26 Juli 2007

Siap Pakaikah Anda ?

Are you ready for use ? Siap pakai kah Anda ? Pertanyaan ini sering dilontarkan ketika interview kepada calon karyawan. Bisa jadi pertanyaan ini disamarkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tersirat atau bisa juga dalam bentuk pertanyaan soal praktis. Intinya, perusahaan atau lembaga yang mencari karyawan, berusaha ingin tahu apakah calon karyawan sudah siap pakai (sudah siap bekerja). Jadi, jangan konotasikan pertanyaan ini dengan hal yang negatif ! Hehehe …

Sudah menjadi persoalan umum saat ini, bahwa banyak lulusan perguruan tinggi (fresh graduate) tidak langsung dapat siap bekerja. Para lulusan ini masih memerlukan waktu untuk belajar bekerja (adaptasi) yang kadang memerlukan waktu yang tidak singkat. Padahal, perusahaan sangat berharap bahwa karyawan yang baru direkrut dapat langsung “tancap gas” untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dibebankan kepadanya.

Saya jadi teringat konsep “Link and Match” yang pernah digaungkan oleh Departemen Pendidikan pada saat masih kuliah dulu. Departemen ini berusaha menjadikan sistem pendidikan (kurikulum) ada keterkaitan (link) dan kecocokan (matching) antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Bagaimana kenyataan konsep tersebut saat ini ? Masing-masing kita pasti punya jawaban untuk hal ini.

Terus bagaimana kiat agar siap bekerja ? Yang pasti pintar saja tidak cukup. Diperlukan kemampuan-kemampuan lain yang akan menjadikan sang fresh graduate siap bertempur. Nah, kemampuan-kemampuan itu bisa didapat dengan belajar di tempat bekerja melalui magang dlsb. Usahakanlah mendapatkan tempat magang di perusahaan besar atau perusahaan yang dikenal memiliki sistem kerja yang baik, jangan asal perusahaan.

Saat magang, kesempatan menyerap ilmu kerja akan mudah diperoleh. Harapannya tentu saja, agar kita siap pakai. Jadi, sudah siap pakai kah Anda ?

Bontang, 9 September 2007.