Jawaban dari kita mungkin akan berbeda-beda, walaupun sebagian besar mungkin akan mengatakan saya adalah tuan rumah di rumah saya sendiri. Tapi tunggu dulu, ternyata kita belum menjadi tuan rumah di rumah kita sendiri, kita adalah tamu atau penonton atau musafir yang bertamu ke rumah yang dibuat oleh poli dan popung kita yang notabene rumah tersebut masih rumah kita sendiri. Sungguh ironis.
Kita adalah sebagai pemilik rumah, dan kitalah seharusnya yang mengatur rumah tersebut dengan membentuk dan menata sedemikian rupa sesuai dengan selera kita. Design interior dan exterior, dan segala pernak-pernik rumah kita bentuk sesuai dengan jiwa, budaya dan spirit yang kita miliki.
Rumah besar yang kita buat, akan ditempati oleh keluarga dan sebagiannya disediakan untuk tamu dan musafir. Kita memang harus menyediakan tempat untuk orang lain, karena kita tidak bisa hidup sendiri. Sebagai tamu atau orang yang "menumpang" maka wajib menjaga tata krama, sopan santun dan menghormati adat istiadat yang berlaku di rumah tersebut. Tidaklah pada tempatnya, jika tamu tersebut menjadi raja yang harus dilayani.
Tanoh Pakpak yang merupakan rumah besar harus diatur oleh orang yang mengerti dengan Tanoh Pakpak dan itu tentunya adalah orang yang berasal dari Pakpak. Perasaan kita akan terusik, jika ternyata Tuan Besar di rumah itu adalah orang lain. Bahkan para menteri sampai dayang-dayangnya adalah orang lain juga.
Untuk menjadi Tuan Rumah, tidaklah cukup berbekal spirit, walalupun spirit tetaplah hal yang harus kita miliki. Lebih dari spirit, kita harus memiliki kebersamaan dan "bekal" yang lebih dari cukup untuk kembali merebut rumah besar ini.
Siapkah kita ?
Tulisan ini dikhususkan kepada komunitas Pakpak. Mari berkomentar !
06 Juli 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Memang tidak nyaman bertamu ke rumah sendiri. Bagaimana ya ... ? Rasanya aneh saja ! Sarannya, sama dengan tulisan mas, rebut kembali rumah itu !!
BalasHapusKade kabar we silih. aku Isnaini Ujung Alumni AkPRIND yogya. kita pernah rebbak i IPMPD jogja. I dike alamatmu bagendari we?
BalasHapusKade kabar we? Aku Isnaini ujung Alumni AKPRIND yogya. Kita pernah i IPMPD Yogya. I dike bagendari tading we?
BalasHapusBakune kabar silih Ujung. Bagendari kami i proyek tambang batubara KPC Sengatta Kalimantan Timur.
BalasHapusLot denganku we i KPC. Gelarna Rizal, kerja i bagian Condition Monitoring. Lot alamat e-mail mu we?
BalasHapusoh.. oda kutandai kalakna, kami beda pt. Malo aku i kontraktorna, PAMA. Email irhamhp@pamapersada.com
BalasHapusAss ww. saya juga sedih, saat masa kecil dulu, ketika sering dibawa Bapak pulang kampung ke tanah Dairi, Mulai dari sumbul Pegagan-Sumbul, bahasa umum yang digunakan sebagai bahasa lokal adalah bahasa Toba. Bapak saya yang sangat mempertahankan budaya Pakpak tidak pernah mau belajar dan menggunakan bahasa itu setiap ke Sidikalang, tetap menggunakan bahasa Pakpak. saya mendengar kabar orang Pakpak semakin tersingkir. untuk menjadi Bupati saja sulit. Mari kita perkaya diri kita dulu dengan ilmu, kemudian kita bangun daerah itu dengan cara apapun. Wassalamualaikum ww.
BalasHapus